Anak Jadi Alasan Rujuk Nia Paramitha-Gusti Randa
Nia Paramitha dan Gusti Randa saat sidang cerai

Seruu.com - Setelah lima tahun pisah rumah, pasangan selebritis Nia Paramitha dan Gusti Randa ini memutuskan rujuk pada akhir 2010 silam. Sebelumnya, mereka merahasiakan alasan untuk rujuk kembali. Namun, Kamis (1/3) mereka membeberkan alasannya rujuk lagi. Kala itu, mereka terlihat mesra. Saat ditemui, Nia mengatakan alasan pertama mereka memutuskan rujuk adalah anak.

"Alasan pertama adalah anak, kita punya empat anak yang masih butuh perhatian saya dan Mas Gusti di rumah," kata Nia. Selain itu, ujar Nia, mereka berdua masih saling menyayangi.

Kedua pasangan ini memiliki empat buah hati, yaitu Mochammad Syahdila Darama, Muhammad Syahdewa Diladayana, Sagita Puan Marlinasthinta dan Syahratu Agatha Novelina. Kendati telah rujuk, Nia mengaku enggan memperlihatkan kemesraan terlalu berlebihan di depan publik.

"Biarlah menjadi rahasia kita berdua, Mas Gusti juga sekarang bisa komunikasi dengan baik dengan saya. Saya bekerja juga tidak menjadi beban untuk anak-anak," kata Nia.

Nia Paramitha dan Gusti Randa memutuskan rujuk pada 2010 lalu. Keduanya sepakat rujuk demi keempat anak mereka.

"Yang pasti karena anak-anak. Selama ini kan kececer-cecer, Mas Gusti di mana, aku di mana. Kalau seperti ini kan seperti keluarga yang lengkap. Ada ibunya dan ada ayahnya tinggal di satu rumah," kata Nia Paramitha.

Keputusan Nia dan Gusti untuk rujuk mendapat dukungan penuh dari keluarga mereka. Kini, pasangan ini tinggal serumah di wilayah Depok.  "Mereka mendukung kok, ini kan juga untuk anak-anak. Kita melakukan ini untuk masa depan mereka juga. Tentunya mereka sangat mendukung keputusan yang telah kita lakukan," ujar perempuan berjilbab itu.

Nia mengaku lega setelah kembali berumah tangga dengan Gusti Randa. "Serulah, apalagi kita sudah ngumpul lagi. Nggak harus berpisah lagi," pungkasnya.

Nia dan Gusti Randa bercerai pada 3 Mei 2006 lalu. Dari pernikahan tersebut lahir empat anak bernama Mochammad Syahdila Darama, Muhammad Syahdewa Diladayana, Sagita Puan Marlinasthinta, dan Syahratu Agatha Novelina. [ndis]

Peraturan Komentar