Cara Sultan dan Hemas Menyambut Tahun Baru
Sri Sultan Hamengku Buwono X

Yogyakarta, Seruu.com - Raja dan permaisuri Kraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X dan GKR Hemas mempunyai cara tersendiri di dalam menyambut pergantian tahun dari 2011 ke 2012. Keduanya, diam-diam mendatangi Galeri Sangkring Art Space, Yogyakarta, yang dipergunakan para seniman menyambut detik-detik tahun baru.

Maka, ketika tamu yang tidak diagendakan tersebut memasuki Galeri Sangkring, para seniman pun kelabakan. Penyambutan dilakukan dengan protokoler model seniman. Sehingga tak menghiraukan kondisi galeri yang morat-marit. Disana-sini masih tercecer sisa-sisa makanan. ''Maaf, saya baru bisa mampir jam segini,'' kata Sultan sambil melihat jam tangan yang menunjukan pk 01.00.

Dasar seniman. Tak kurang akal menyiasati kekurangannya. Mereka justeru meminta Sultan menyampaikan  orasi tutup dan buka tahun. Sambil berdiri di depan para seniman yang duduk lesehan, Sultan mengemukakan keprihatinannya terkait betapa semakin sulit membangun republik ini berbasis peradaban kultural.

Etika moral yang menjadi basis kebesaran membangun bangsa di masa lalu, mulai dari jaman Sriwijaya di abad ketujuh, lalu Kerajaan Majapahit di abad keempatbelas telah bergeser di tujuh abad kemudian hingga era sekarang, seakan ditelan bumi.

Pendekatan moral saat ini dinilainya kian berbasis dan bersifat materialistic. "Etika moralitas kini sangat paradoksal. Ketika punya moralitas baik, tetap saja ditanya, 'Hargamu berapa?' Antarelit kini juga telah saling mengetahui kelemahan lawan sehingga saling mengunci demi keamanan posisi dirinya sendiri," Sultan dalam orasi dadakan.

Selama anak bangsa saling mengunci dan dihargai dengan duit, republik ini tidak akan maju. Runtuhnya moralitas dan mengabaikan jatidiri bangsa pada akhirnya membawa pada kesemrawutan dan konflik. Seperti, kasus terakhir di Mesuji dan Bima.

"Di Yogyakarta, modal utama yang dimiliki adalah kebersamaan. Kita bergaul dengan seniman bukan untuk bisa pandai melukis, tapi untuk mendengarkan nurani yang ada di sekitarnya. Untuk itu jangan menutup diri," Sultan mengingatkan dalam orasi yang sangat singkat.

Setelah Sultan mengkahiri orasi dadakan, perupa sekaligus pemilik Sangkring Art Space, Putu Sutawijaya, bergegas mengambil salah satu karyanya berjudul 'Candi Bajang' kemudian diberikan sebagai kenang-kenangan kepada Sultan.[bw]
 

Tags:

BAGIKAN


Rating artikel: star goldstar goldstar goldstar goldstar gold (1 rates)
Rating
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar goldstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar goldstar goldstar bwstar bw
  • star goldstar goldstar goldstar goldstar bw
  • star goldstar goldstar goldstar goldstar gold
Peraturan Komentar